Senin, 02 Maret 2015

PEMIKIRAN NICCOLO MACHIAVELLI TENTANG NEGARA


POKOK PEMIKIRAN NICCOLO MACHIAVELLI TENTANG NEGARA

Riwayat Niccolo Machiavelli
Niccolo Machiavelli dilahirkan di Florence pada tahun 1469. Ia seorang ahli sejarah dan negarawan Italia juga merupakan tokoh pada Zaman Renaisance.
Ajarannya yang sangat terkenal tercantum pada buku Discorsis Opra la prima desa di Titus Livius (Discourses on Frist Ten Books of Titus Livius); 3 jilid, 1521 – 1517 dan II principe (The prince), 1513.
Buku-buku tersebut ia tulis ketika ia berada di tempat perasingan. Hingga pada akhirnya Niccolo Machiavelli wafat pada tahun 1527.

Pemikiran-Pemikiran Niccolo Machiavelli
Ajaran Niccolo Machiavelli tentang negara dan hukum ditulis dalam bukunya yang sangat terkenal yang diberi nama II Principle artinya Sang Raja atau Buku Pelajaran untuk Raja. Buku ini dimaksudkan untuk dijadikan tuntutan atau pedoman bagi para raja dalam menjalankan pemerintahanya, agar raja dapat memegang dan menjalankan pemerintahan dengan baik, untuk menyatukan kembali negara Italia yang pada wkatu itu mengalami kekacauan dan daerah negara terpecah-belah. Dalam buku tersebut juga menerangkan Pendirian Machiavelli terhadap azas-azas moral dan kesulilaan dalam susunan ketatanegaraan. Ia menunjukkan dengan terang dan tegas pemisahan antara azas-azas kesusilaan dengan azas-azas kenegaraan yang berarti bahwa orang dalam lapangan ilmu kenegaraan tidak perlu menghiraukan atau memperhatian azas-azas kesusilaan. Orang, bahkan negara kepentingannya akan terugikan apabila tidak berbuat demikian.
Ajaran atau pandangan Niccolo Machiavelli tersebut diatas sangat terpengaruh bahkan dapat dikatakan merupakan pencerminan daripada apa yang dikenalnya dalam praktek sebagai seorang ahli negara dan apa yang dijalankannya, karena dianggapnya perlu sekali untuk menyelenggarakan kepentingan-kepentingan negara, diangkatnya menjadi toeri umum mengenai praktek ketatanegaraan dengan cara yang gagah dan berani. Disinilah Niccolo Maciavelli kelihatan sangat terpengaruh oleh keadaan di tanah airnya, Italia, karena keadaan di Italia pada waktu itu sedang mengalami kekacauan dan perpecahan, maka ia menginginkan terbentuknya Zentral Gewalt (sistem pemerintah sentral). Maksudnya ialah agar dengan demikian keadaan dapat menjadi tentram kembali.
Sebab itu berkatalah Niccolo Maciavelli dalam bukunya II Principe dalam bab 19 bahwa, “penguasa, yaitu pimpinan negara haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala. Jadi jelaslah bahwa raja atau pimpinan negara harus memiliki sifat-sifat cerdik pandai dan licin seibarat seekor kancil, akan tetapi harus pula memiliki sifat-sifat yang kejam dan tangan besi seibarat singa.
Tujuan Niccolo Maciavelli ialah untuk mencapai cita-cita atau tujuan politik demi kebesaran dan kehormatan negara Italia, agar menjadi seperti masa keemasan Romawi. Untuk itu diperlukan kekuatan dan kekuasaan yang dapat mempersatukan daerah-daerah sebagai negara tunggal. Oleh karena itu tujuan negara lain dengan masa lampau. Tujuan negara masa lampau menurut pendapatnya : kesempurnaan, kemuliaan abadi, untuk kepentingan perseorangan berupa penyempurnaan dari manusia. Sedangkan tujuan negara sekarang menghimpun dan mendapatkan kekuasaan yang sebesar-besarnya.
Berhubung dengan hal itu raja atau pimpinan negara boleh berbuat apa saja asalkan tujuan bisa tercapai maka dengan demikian terjadilah het doel heilight de middeled (tujuan itu menghalalkan / membenarkan semua cara atau usaha). Maka ajarannya disebut ajaran negara harus diutamakan dan apabila perlu negara dapat menindak kepentingan individu.
Dari ajaran Niccolo Machiavelli ini menjelma dan timbullah pengertian real politik berdasarkan itu harus diambil sikap yang nyata, karena itu disebut juga machiavellismus.

Analisis
Teori kekuasaan negara yang dikemukakan Niccolo Machiavelli dalam bukunya II principle dalam bab 19 bahwa, “penguasa, yaitu pimpinan negara haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala.”
Teori tersebut tidak cocok apabila diterapkan di Indonesia pada saat sekarang ini. Karena teori tersebut sangatlah bertentangan dengan dasar dan ideologi negara kita yaitu Pancasila. Selain itu negara kita merupakan negara demokrasi yang mengutamakan partisipasi rakyat dalam mengemukakan aspirasinya.
Melihat hal tersebut, teori kekuasan negara Niccolo Machiavelli sangatlah bertentangan, karena dalam teori tersebut lebih mengutamakan sifat-sifat yang kejam dan tangan besi yang mengarah kepada diktatur serta keabsolutan kekuasaan itu sendiri. Dengan demikian, teori ini tidak cocok untuk diaplikasikan di Indonesia dewasa ini. Walaupun teori tersebut pada zamannya (Renaisance) dipandang cocok untuk diterapkan di Italia itu sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pemerintahan pada saat itu.

Kesimpulan
Niccolo Machiavelli adalah seorang ahli sejarah dan negarawan Italia. Ia merupakan seorang penyelidik keadaan masyarakat masa Romawi. Pada masa itu sejarah perkembangannya mencangkup 4 tingkatan masa seperti : kerajaan, Republik, Prinsipat, dan Dominant.
Ia hidup pada masa Renaisance yang sempat memplajari sejarah politik masa Republika untuk dipakai sebagai pedoman masa hidupnya.
Selain itu, dia mengemukakan beberapa teori yaitu sebagai berikut :
1)       Menitikberatkan pada sifat pribadi raja, agar dapat cerdik seperti kancil dan menakut-nakuti rakyatnya seperti singa.
2)     Pemerintah / penguasa boleh berbuat apa saja, asal untuk kepentingan negara dalam mencapai kekuasaaan negara yang sebesar-besarnya.
3)      Siapa pun yang melawan pemerintah / raja harus ditindak tanpa kompromi.
4)     Pemerintah menghalalkan segala cara, meskipun harus melanggar sendi-sendiri kesusilaan serta kebenaran.
5)     Seorang penguasa yang cermat tidak memegang kepercayaannya jika kepercayaan itu berlawanan dengan kepentingannya.
Dia memiliki tujuan ialah untuk mencapai cita-cita atau tujuan politik demi kebesaran dan kehormatan negara Italia agar menjadi seperti masa keemasan Romawi dan untuk itu diperlukan harus adanya kekuatan dan kekuasaan yang dapat mempersatukan daerah-daerah sebagai negara tunggal, sebab pada waktu itu Italia terpecah belah atas kekuatan-kekuatan.
Raja atau pimpinan negara boleh berbuat apa saja asalkan tujuan bisa tercapai maka dengan demikian terjadilah het doel heilight de middelen (tujuan itu menghalalkan atau membenarkan semua cara atau usaha). Maka sebab itu ajarannya disebut ajaran negara kekuasaan (machts-staatsgedachte) kepentingan negara harus diutamakan dan apabila perlu negara dapat menindak kepentingan individu.
Sehubungan dengan ajaran itu, maka ia lebih mendapat nama buruk daripada termasyhur dan selain itu dilakukan peninjauan lebih mendalam lagi dengan melakukan Machiavellisme terhadap karya-karyanya.